Tampilkan postingan dengan label pemasaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemasaran. Tampilkan semua postingan

Pengertian Marketing Mix dan Unsur Unsur dalam Marketing Mix

Marketing mix atau bauran pemasaran ini merupakan serangkaian unsur – unsur pemasaran yang dapat dikuasai oleh perusahaan dan digunakan untuk mencapai tujuan dalam pasar sasaran.

Pengertian marketing mix menurut Kotler merupakan sejumlah alat – alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk meyakinkan objek pemasaran atau target pasar yang dituju. 

Sedangkan pengertian marketing mix menurut Stanton (1978) adalah kombinasi dari empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan, yakni produk, harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi. Rangkaian dari 4 variabel inilah yang disebut jgua sebagai unsur – unsur marketing mix.


Unsur unsur Marketing Mix

Rangkaian unsur – unsur marketing Mix atau variabel marketing mix ini juga dikenal sebagai 4 P. 4 P yang merupakan unsur marketing mix adalah singkatan dari Product (produk), Price (harga), Place (tempat), dan Promotion (promosi).

Keempat unsur marketing mix inilah yang secara terus menerus digunakan sebagai kelengkapan dalam strategi pemasaran. Hal ini pula yang memungkinkan suatu perusahaan dapat berhasil dalam memasrkan produknya karena dapat memberikan produk yang tepat, harga yang layak, tempat yang terjangkau dan juga promosi yang efektif.

Meski unsur marketing mix yang lebih populer adalah 4 hal, tapi baru – baru ini ada juga yang menambahkan dua lagi unsur marketing mix, yakni People atau orang dan Process atau proses pembuatan dan penyampaian produk.

Berikut adalah penjelasan dari empat variabel atau unsur bauran pemasaran yang ada.

1. Product (produk)
Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan di pasar guna memuaskan kebutuhan dan keinginan dari konsumen. Produk yang dimaksud bisa sangat luas, berupa barang, jasa, pengalaman, events, tempat, orang, kepemilikan, informasi, organisasi, dan juga ide. Pada dasarnya, konsumen membeli manfaat dan nilai dari suatu produk yang ditawarkan tersebut dan bukannya membeli barang atau jasanya.

Karenanya, penting dalam sebuah bauran pemasaran untuk memahami penawaran produk yang didasarkan pada manfaatnya. Penawaran produk ini menurut Fandy Tjiptono (1997: 96) dapat dibedakan dalam lima tingkatan, yakni:

a. Manfaaf inti (core benefit)
Hal ini adalah tingkatan pertama atau merupakan tingkatan paling dasar dimana manfaat ini yang sesunguhkan inilah yang dicari oleh konsumen atau pelanggan ketika mereka membeli.

b. Produk dasar (basic product)
Produk dasar ini adalah tingkatan kedua dimana pemasar harus dapat mengubah manfaat inti ini menjadi produk dasar.

c. Produk yang diharapkan (expected product)
Produk yang diharapkan merupakan tingkatan ketiga dimana sebuah set atribut dankondisi yang biasanya diharapkan oleh pembeli.

d. Produk dengan nilai tambah (augmented product)
Produk dengan nilai tambah menjadi tingkatan keempat dimana pemasar dapat menyediakan sesuatunya yang melebihi dari harapan konsumen.

e. Potensi produk (potential product)
Tingkatan kelima ini adalah potensi produk dimana penyedia produk dan jasa dapat mencari sesuatu yang bisa melampaui semua harapan pelanggan dengan tujuan untuk menyenangkan pelanggan dan membedakan penawaran mereka dari para pesain lainnya.

2. Price (harga)
Price atau harga merupakan sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh konsumen agar bisa mendapatkan suatu produk yang diinginkannya. Harga ini juga jadi unsur terpenting dalam bauran pemasaran setelah produk. Selain itu, harga juga merupakan satu – satunya unsur dalam bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan penjualan.

Sedangkan unsur lainnya, lebih merupakan biaya saja. Keputusan mengenai harga ini dapat mencakup berbagai hal seperti tingkat harga, potongan harga, keringanan, periode pemasaran dan rencana iklan. Perusahaan harus dapat memutuskan harga yang tepat terhadap produknya yang juga harus didasarkan pada mutu produk tersebut.

Baca juga: Komponen Komponen Marketing Mix Lengkap dengan Penjelasannya

3. Place (tempat)
Place atau tempat ini terkait dengan pola distribusi yang dilakukan untuk pemasaran. Sebelum produsen memasarkan produknya, maka sudah seharusnya terdapat perencanaan tentang pola distribusi yang akan dilakukannya. Hal yang penting untuk ditentukan adalah perantara dan saluran distribusinya.

Perantara adalah hal yang paling penting dalam hal ini karena dalam segala hal, merekalah yang berhubungan dengan konsumen secara langsung. Selain itu, lokasi juga berpengaruh dalam hal saluran distribusi. Dimana lokasi ini sangat menentukan agar konsumen atau pelanggan bisa benar – benar mendapatkan produknya.

4. Promotion (promosi)
Promosi merupakan berbagai kegiatan yang dilakukan utnuk menonjolkan kestimewaan produk dan membujuk konsumen agar mau membeli produk yang ditawarkannya tersebut. Promosi ini merupakan alat untuk memperkenalkan barang baru dan mengingatkan keberadaan suatu barang lama kepada konsumen agar mereka mengenal, mengingat, loyal, dan juga tertarik untuk membelinya.

Dalam hal promosi ini, terdapat variabel promosi yang sering disebut dengan bauran komunikasi pemasaran. Bauran komunikasi pemasaran ini menruut Kotler (1997 : 604) meliputi beberapa hal berikut ini :

4.a. Advertising
Semua bentuk presentasi nonpersonal dan prmosi ide barang atau jasa oleh sponsor yang ditunjuk dengan mendapatkan bayaran tertentu.

4.b. Sales promotion
Yakni insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau pembelian produk dan jasa perusahaan.

4.c. Public relations and publicity
Yakni berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan dan atau melindungi citra perusahaan atau produk individual yang dihasilkan.

4.d. Personal selling
Yakni interaksi langsung antara satu atau lebih calon pembeli dengan tujuan melakukan penjualan.

4.e. Direct marketing
Yakni komunikasi pemasaran yang secara langsung dilakukan untuk mendapatkan respon dari pelanggan dan calon pelanggan tertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan surat, telepon dan alat penghubung nonpersonal lainnya.

Konsep Pelayanan Prima terhadap Pelanggan ( Pengertian, Fungsi dan Tujuan Pelayanan Prima )

Konsep pelayanan Prima perlu dipelajari dalam mengoperasikan Prinsip-prinsip kerjasama dengan kolega dan pelanggan. Pelayanan prima merupakan bagian dari kegiatan bisnis dalam hal menyediakan bantuan kepada pelanggan di dalam dan di luar organisasi


a. Hakikat dan Pengertian Pelayanan Prima
Pelayanan prima bertitik tolak pada usaha-usaha yang dilakukan suatu perusahaan untuk melayani pembeli (pelanggan) dengan sebaik-baiknya.
Beberapa pengertian pelayanan prima diantaranya:
  • Pelayanan prima adalah pelayanan terbaik yang diberikan perusahaan untuk memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan
  • Pelayanan prima adalah pelayanan yang memprioritaskan kepuasan pelanggan
  • Pelayanan prima adalah pelayanan dengan ramah, tepat, dan cepat kepada pelanggan
  • Pelayanan prima adalah pelayanan yang membuat pelanggan merasa dipentingkan
  • Pelayanan prima adalah pelayanan yang menempatkan pelanggan sebagai rekan/partner
  • Terdapat beberapa istilah pelayanan prima dalam dunia bisnis, seperti:
  • Service excellence, yaitu layanan istimewa/ prima
  • Customer service, yaitu pelayanan kepada pelanggan
  • Customer care, yaitu peduli pelanggan atau kepedulian terhadap pelanggan

Contoh-contoh bentuk pelayanan prima dapat berupa:
  • Perbankan memberikan kemudahan bagi para nasabah untuk melakukan berbagai transaksi perbankan dimanapun. Misalnya dengan menggunakan ATM, layanan sms banking dan internet banking, atau kredit pemilikan rumah/ kendaraan (KPR/K)
  • Transportasi menyediakan fasilitas angkutan orang atau barang yang aman, nyaman, dan cepat serta ongkos yang relatif murah.
  • Warung/ toko menyediakan barang kebutuhan sehari-hari yang lengkap.
  • Rumah sakit menyediakan fasilitas yang baik dan pelayanan yang cepat.

Artikel Terkait : Etika Bisnis dan Sumber Hukum Dagang

b. Tujuan pelayanan prima
  1. Untuk memberikan pelayanan yang bermutu tinggi
  2. Menimbulkan keputusan dari pihak pelanggan/konsumen agar segera membeli barang/jasa yang ditawarkan pada saat itu
  3. Untuk menumbuhkan kepercayaan pelanggan/konsumen terhadap barang/jasa yang ditawarkan.
  4. Untuk menghindari terjadinya tuntutan-tuntutan yang tidak perlu dikemudian hari terhadap produsen/penjual
  5. Untuk menciptakan kepercayaan dan kepuasan pelanggan
  6. Untuk menjaga agar pelanggan/konsumen merasa diperhatikan segala kebutuhannya
  7. Untuk mempertahankan pelanggan/konsumen, agar tetap setia menggunakan barang/jasa yang ditawarkan

c. Fungsi pelayanan prima
  1. Melayani pelanggan dengan ramah, tepat dan cepat
  2. Menciptakan suasana agar pelanggan merasa dipentingkan
  3. Menempatkan pelanggan sebagai mitra usaha
  4. Menciptakan pangsa pasar yang baik terhadap produk/jasa yang ditawarkan
  5. Memenangkan persaingan pasar
  6. Memuaskan pelanggan, agar mau berbisnis lagi dengan perusahaan (menjadi pelanggan yang loyal)
  7. Memberikan keuntungan kepada perusahaan

Memahami Etika Bisnis dan Sumber Hukum Dagang

Bisnis adalah salah satu kegiatan penting dalam kehidupan masyarakat. Bisnis menjadi bentuk interaksi antar masyarakat yang paling lazim dalam hal ekonomi. Kegiatan bisnis ini pula yang menjadi penggerak dan mendorong tumbuh kembangnya peradaban yang menjamin hajat hidup orang banyak.

Ya, banyak masyarakat yang bergerak di bidang bisnis demi kelangsungan hidup mereka. Sayangnya, praktik bisnis yang terjadi selama ini dinilai masih cenderung mengabaikan  etika, rasa keadilan dan justru kerapkali  diwarnai  praktik - praktik  tidak terpuji atau moral hazard.

Tentu saja dalam berbisnis pun, etika adalah hal yang penting. Untuk mengantisipasi kondisi praktik – praktik yang merugikan dalam bisnis, diperlukan akan adanya pemahaman dan implementasi etika bisnis yang selaras bagi para pelaku usaha, terutama sesuai dengan prinsip ekonomi.

Memahami Etika Bisnis dan Sumber Hukum Dagang

Etika Bisnis

Di dalam berbisnis dibutuhkan suatu etika yang disebut sebagai etika bisnis. Dalam hal ini, terdapat dua hal yang perlu dimengerti sebelumnya, yakni kata Etika dan kata Bisnis.

Etika merupakan seperangkat kesepakatan umum untuk mengatur hubungan antar  orang per orang atau orang per orang dengan masyarakat, atau masyarakat dengan masyarakat yang lain.

Pengaturan dalam bertingkah laku ini adalah hal yang perlu demi terjadinya hubungan  yang  tidak  saling  merugikan  di  antara  orang per orang, atau antara orang per orang dengan masyarakat, atau antara kelompok kelompok dalam masyarakat.

Etika ini  kemudian  dituangkan  dalam  bentuk  tertulis, yang kemudian melahirkan kebijakan yang berupa: undang-undang, hukum, peraturan, dan sebagainya. Di samping bentuk yang tertulis, terdapat juga etika yang bersifat tak tertulis.

Etika dalam bentuk tak tertulis ini berupa kesepakatan umum dalam masyarakat atau kelompok masyarakat. Kesepakatan umum yang tak tertulis ini kemudian lebih dikenal sebagai bentuk etiket, sopan santun, adat dan lain sebagianya.

Semua  bentuk  masyarakat  atau  kelompok  masyarakat umumnya mempunyai perangkat  aturan,  baik aturan  yang  tertulis  maupun  tidak tertulis.  Perangkat aturan  tersebut pada dasarnya bertujuan untuk menjamin berlangsungnya hubungan antar anggotanya agar dapat terjalin dengan baik.

Hal yang sama pun juga terjadi dalam dunia bisnis. Di dalam dunia bisnis terdapat pula seperangkat aturan yang mengatur relasi antar pelaku bisnis. Perangkat  aturan  ini diperlukan  agar  relasi  bisnis  yang terjalin dapat berlangsung dengan “fair” dan baik.

Perangkat aturan atau etika dalam bisnis ini dapat berupa Undang - undang, peraturan   pemerintah, keputusan presiden, dan lain sebagainya. Perangkat- perangkat tersebut bersifat mengatur secara internal tiap – tiap mereka yang terlibat dalam dunia bisnis. Aturan tersebut mengatur tentang bagaimana melakukan bisnis, berhubungan dengan sesama pelaku bisnis dan lainnya.

Hukum Dagang sebagai Bagian dari Etika Bisnis

Indonesia memiliki hukum umum atau disebut sebagai hukum publik yang merupakan hukum yang mengatur hubungan antara Negara dan Warga Negara yang sifatnya mengatur  kepentingan unum seperti hukum tata negara hukum pidana, hukum fiskal, hukum administrasi negara dan lain lain.

Selain hukum umum, terdapat pula hukum  perdata  (privat)  atau  hukum  sipil yang merupakan bentuk hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang dengan orang,  antara pihak yang satu dengan pihak yang lain atau pun pihak kedua, mengenai suatu obyek yang bersifat keperdataan, dengan menitik beratkan pada kepentingan perorangan.

Yang termasuk dalam hukum perdata misalnya adalah hukum jual beli, hukum perkawinan, hukum sewa menyewa, hukum warisan, hukum perjanjian kerja dan sebagainya.

Artikel Terkait : Tujuan dan Fungsi Komunikasi Bisnis

Hukum Dagang

Hukum perdata dapat dibedakan atas hukum perdata dalam arti luas dan hukum perdata dalam arti sempit. Adapun hukum perdata dalam artian luas adalah hukum perdata yang didalamnya juga mencakup hukum dagang. Jadi, dalam hal ini hukum dagang juga merupakan bagian dari hukum perdata.

Sedangkan hukum perdata dalam arti sempit, yakni hanya mencakup hukum perdata saja. Jadi, hukum dagang dalam hal ini tidak termasuk di dalamnya. Di dalam hukum perdata, aturan mengenai hukum dagang terletak dalam buku III KUH Perdata.

Hukum dagang mengatur hubungan hukum antara orang satu dengan orang lain atau antara seorang dengan badan hukum dalam hal perniagaan. Hukum dagang ini secara khusus diatur dalam Kitab Undang Undang Hukum Dagang (KUHD).

Sumber Hukum Dagang

Hukum dagang dapat bersumber dari dua hal, yakni sumber hukum dagang yang berasal dari perjanjian dan sumber hukum dagang yang berasal dari undang – undang. Berikut keterangannya.

a. Sumber Hukum Dagang yang berasal dari perjanjian,
Artinya hukum dagang yang digunakan bersumber dari semua perjanjian yang diadakan oleh dua pihak atau beberapa pihak, seperti :
-     perjanjian asuransi
-     perjanjian ekspeditur
-     perjanjian pembayaran utang
-     perjanjian lainnya  (wesel,cek,obligasi,perantara dalam perdagangan)

b. Yang berasal dari undang undang, yaitu:
-     KUHD dan KUH Perdata
-     Peraturan peraturan khusus diluar KUHD

Pengertian Pemasaran Menurut Para Ahli

Sudah pernah mendengar istilah pemasaran bukan? Pemasaran menjadi hal yang cukup akrab di telinga masyarakat umum, dan juga cukup sering dibahas dalam kehidupan kita. Jadi,tentunya kita sudah paham seperti apa itu pemasaran dan bagaimana aktivitasnya. Jika dalam aktivitas sehari -hari, pengertian pemasaran mungkin tidak terlalu penting ya. Tapi jika dalam kegiatan pembelajaran formal, agaknya kita tetap perlu tahu apa itu pengertian pemasaran, terutama menurut para ahli.
Memahami pengertian pemasaran sangat penting agar kita bisa membedakannya dengan periklanan. Sebab, pemasaran seringkali dianggap sama dengan penjualan atau pun periklanan. Padahal, jika dilihat dari pengertiannya, penjualan, periklanan dan pemasaran pada dasarnya berbeda.
Bahkan, periklanan dan penjualan merupakan bagian dari pemasaran. Bisa dikatakan, pemasaran adalah aspek yang cukup luas yang di dalamnya mencakup aspek penjualan juga periklanan. Agar lebih jelas, mari kita pahami lagi pengertian pemasaran dari para ahli.
Pengertian Pemasaran Menurut Para Ahli

Pengertian pemasaran

Dalam arti yang lebih luas, pemasaran dapat dipahami sebagai suatu proses sosial dan manajerial yang dilakukan agar individu dan kelompok bis mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan, dengan cara penciptaan serta pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
Menurut American Marketing Association, pengertian pemasaran yang dimuat dalam Kotler dan Keller adalah “Marketing is an organization function and a set processes for creating, communicating, and delivering value to customers and for managing customer relationship in ways that benefit the organization and it stakeholders”.
Atau dalam bahasa Indonesia, “Pemasaran adalah fungsi organisasi dan serangkaian proses menciptakan, mengkomunikasikan serta memberikan nilai bagi pelanggan dalam mengelola hubungan pelanggan melalui cara yang menguntungkan bagi organisasi dan pihak-pihak berkepentingan lain.
Menurut Fandy Tjiptono, pengertian  pemasaran adalah suatu fungsi yang mempunyai kontak terbesar terhadap lingkungan eksternal, sekali pun suatu perusahaan hanya mempunyai kendali terbatas terhadap lingkungan eksternal. Pemasaran di sini dilakukan dengan tujuan untuk menarik perhatian pembeli sehingga mau mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Inilah mengapa pemasaran berperan penting dalam pengembangan strategi perusahaan.
Menurut Kotler dan Keller, pemasaran berupa manajemen yang dapat terjadi setidaknya ketika salah satu pihak yang berinteraksi di dalam sebuah pertukaran potensial, berfikir mengenai berbagai cara demi mencapai respon yang diinginkan oleh pihak lain.
Dari pemikiran Kotler dan Keller inilah, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa managemen pemasaran (Marketing Management) dapat dipandang sebagai seni dan ilmu dalam memilih pasar sasaran, serta meraih, mempertahankan, juga menumbuhkan pelanggan dengan jalan menciptakan, menghantarkan dan mengkomunikasikan nilai unggul dari pelanggan.
Sedangkan inti dari pemasaran juga diungkapkan oleh Kotler dan Keller sebagai suatu upaya untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan dari konsumen. Adapun, sasaran bisnis menurut mereka adalah upaya mengantarkan nilai pelanggan agar bisa menghasilkan laba. Kemudian, agar dapat menciptakan serta menghantarkan nilai, maka fase yang dilalui dapat meliputi, fase memilih nilai, fase menyediakan nilai, serta fase mengkomunikasikan nilai.
Kotler dan Keller mengungkapkan mengenai urutan penciptaan dan menghantarkan nilai yang melalui tiga fase tersebut, meliputi :
  1. Fase memilih nilai, yakni dilakukan dengan mempresentasikan “pekerjaan rumah”, di mana kegiatan pemasaran ini harus dimulai atau dilakukan sebelum produk dibuat. Hal yang perlu dilakukan staf pemasaran adalah melakukan segmentasi pasar,  lalu memilih sasaran pasar yang paling tepat serta mengembangkan penawaran positioning nilai (STP).
  2. Fase menyediakan nilai, dalam fase ini, pemasar harus dapat menentukan fitur produk tertentu, serta harga dan distribusi.
  3. Fase mengomunikasikan nilai, adalah fase yang ditandai dengan adanya upaya untuk mendayagunakan tenaga penjualan, bagian promosi penjualan, iklan dan melalui sarana komunikasi lain yang dipakai untuk mengumumkan dan mempromosikan produk.
Dari uraian mengenai pengertian pemasaran menurut para ahli, seusai yang telah diuraikan di atas, maka kita pun bisa menarik kesimpulan bahwa pemasaran merupakan suatu proses mengenai bagaimana memuaskan kebutuhan pelanggan.
Ketika pihak pemasar dapat memahami dengan baik akan kebutuhan pelanggannya, ditambah dengan kemampuan dalam mengembangkan produk yang bernilai superior serta menetapkan harga, mendistribusikan dan mempromosikan produk secara efektif, maka hasilnya produk-produk tersebut akan dapat terjual dengan lebih mudah.

Nah, demikianlah penjelasan mengenai pengertian pemasaran yang bisa kita sampaikan. Semoga artikel ini bermanfaat ya.

Cara Menyusun Format Presentasi


Secara umum, format presentasi terdiri dari 3 bagian utama, yang meliputi bagian pembukaan, bagian, dan bagian penutup. Berikut penjelasannya.

a. Bagian pembukaan
Bagian pembukaan bertujuan untuk  mendapatkan perhatian audience, membangun kepercayaan diri, dan mempersiapkan audience. Oleh karena itu, isi dari bagian pembukaan ini harus menarik, sehingga audience tertarik dan siap menerima presentasi. Berikut adalah cara untuk membuat bagian pembukaan presentasi yang baik dan menarik, klik disini

b. Bagian isi
Bagian isi merupakan bagian terpenting dari presentasi, sedangkan bagian pembukaan dan bagian penutup merupakan sarana yang mendukung bagian isi. Pada bagian isi semua latar belakang, pokok pikiran, alasan-alasan, dan kesimpulan dikemukan.

Karenanya, bagian isi harus mempunyai struktur yang jelas, dengan urut-urutan pembahasan yang mudah dipahami, dan berusaha mempertahankan perhatian audience. Struktur isi presentasi yang harus diperhatikan yakni:

1) Penekanan struktur/format
Di dalam presentasi, format/struktur ini relatif sulit diidentifikasi. Untuk melihat struktur/format presentasi audience dapat menggunakan transisi. Transisi yaitu kata-kata atau kalimat-kalimat yang menghubungkan kalimat-kalimat atau bagian-bagian dalam presentasi.

Contohnya, untuk menghubungkan kalimat satu dengan kalimat lain dapat menggunakan kata sambung seperti: karena, oleh karena itu, lebih dari itu, kebalikan, namun demikian, atau akhirnya.

Sedangkan untuk menghubungkan paragraf satu dengan paragraf lain atau menghubungkan pokok pikiran satu dengan pokok pikiran lain dapat menggunakan transisi seperti: sekarang akan dibahas masalah A, pembahasan kita sekarang adalah B, selanjutnya akan dibahas, berikut ini adalah kesimpulan yang dapat diambil.

Dalam presentasi, setiap pergantian kalimat, paragraf, atau pokok pikiran perlu ditekankan hubungan antara satu dengan yang lain. Karena tidak semua audience mempunyai daya ingat yang luar biasa, sehingga tidak semua audience dapat mengulas apa yang telah dipresentasikan pembicara.
         
2) Urut-urutan bagian isi
Bagian isi harus mempunyai urutan yang jelas dan logis. Karena urutan yang jelas dan logis akan mempermudah audience dalam memahami presentasi.

3) Mempertahankan minat audience
Apabila pada bagian awal pembicara perlu menarik perhatian audience, maka pada bagian isi pembicara harus dapat mempertahankan perhatian audience. Perhatian pada bagian isi sangat penting, karena di sini ide-ide pokok presentasi disampaikan. Sedangkan pada bagian pembukaan, menarik perhatian dimaksudkan untuk “pancingan”, agar audience lebih dahulu tertarik dengan presentasinya.

Baca juga : Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Presentasi

Berikut ini beberapa patokan untuk digunakan dalam mempertahankan perhatian audience:

a). Menghubungkan topik presentasi dengan kebutuhan audience
Apabila pembicara dapat menghubungkan topik atau pokok pikiran presentasi dengan kebutuhan audience, maka dapat dipastikan bahwa audience akan memperhatikan pembicara. 

Karena audience mempunyai suatu kebutuhan tertentu, dan pada saat topik yang berhubungan dengan kebutuhan tersebut dikemukakan, maka mereka memandang akan dapat memenuhi kebutuhan tersebut. 

Contohnya, pembicara akan mempresentasikan masalah etika komunikasi di hadapan anak-anak remaja, maka pembicara menghubungkan topik yang dibahasnya dengan hubungan sosial anak-anak remaja.

b). Penggunaan bahasa yang jelas
Penggunaan bahasa yang tidak jelas akan cepat membosankan audience. Demikian juga untuk penggunaan istilah khusus (jargon) yang hanya dipahami oleh kelompok tertentu. Oleh karena itu gunakan bahasa yang mudah dipahami atau yang “familiar”.

c. Bagian penutup
Bila telah sampai di bagian penutup, berarti semua ide pokok yang direncanakan disampaikan telah tersampaikan semua. Bagian penutup ini harus terstruktur, sehingga audience memahami ide pokok yang disampaikan.
Pada bagian ini pembicara juga harus memperhatikan tiga hal berikut ini :

1) Meringkas pokok pikiran
Sebelum presentasi ditutup, pembicara harus mengulang pokok pikiran yang telah dijelaskan pada bagian isi. Maksud pembuatan ringkasan pokok pikiran ini lalu membacanya adalah untuk mengingatkan kembali tentang isi presentasi, sehingga audience memahami secara jelas isi dan maksud presentasi.

2) Menggarisbawahi tahap selanjutnya
Secara umum tujuan presentasi bisnis adalah menginginkan audience untuk melakukan perubahan tertentu, seperti dalam hal sikap, perilaku, tindakan, nilai, dan kepercayaan. Oleh karena itu, pembicara harus menekankan tindakan yang harus dilakukan audience setelah presentasi berakhir. Tindakan yang diinginkan harus cukup jelas, sehingga audience memahami tugas/tindakan yang harus dilakukan dengan tepat.

3) Menutup dengan kesan yang baik
Penutupan presentasi perlu dilakukan dengan baik, sehingga menimbulkan rasa antusias dan meninggalkan kesan yang baik bagi audience. Untuk pesan-pesan yang bersifat informatif, menutup dengan nada positif lebih mudah dilakukan, karena di sini pembicara sifatnya hanya memberikan informasi.

Apabila pembicara menginginkan perubahan atau menginginkan audience melakukan sesuatu, di sini sifatnya sangat lemah. Berbeda dengan pesan yang bersifat persuasif, di sini pembicara lebih menginginkan audience untuk melakukan suatu perubahan atau tindakan. 

Sedangkan pesan yang bersifat instruktif, dengan jelas mengharuskan audience melakukan tindakan tertentu. Penutup dengan kesan positif/baik paling sulit dilakukan untuk pesan yang bersifat instruksi ini, karena mengharuskan audience melakukan tindakan tertentu.

Referensi:
Honiarti, Euis. 2004. Mengaplikasikan Keterampilan Dasar Komunikasi SMK. Armico : Bandung.
Wursanto, Ignatius. 2006. Kompetensi Sekretaris Profesional. Andi Yogyakarta : Yogyakarta.
Haryani, Sri. 2001. Komunikasi Bisnis. UPP AMP YKPN : Yogyakarta
Honiarti, Euis, dkk. 2009. Melakukan Komunikasi Melalui Telepon SMK. Armico : Bandung

Menyususn Rencana Bisnis

Pengertian Bisnis


Bisnis atau business merupakan suatu aktivitas dan usaha untuk memperoleh keuntungan atau laba dengan menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan pada suatu sistem ekonomi. Beberapa bisnis memproduksi berbagai barang nyata, contohnya sepeda motor, makanan, minuman, dll. Selain menghasilkan berbagai macam produk yang dikonsumsi masyarakat, kegiatan bisnis juga memberika banyak lowongan pekerjaan.

Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas, inovasi, dan keberaian dalam mengahadapi resiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentuk dan memelihara usaha yang baru.




Kewirausahaan (Entrepreneurship)


Dalam instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 1995 Tanggal 30 Juni 1995 mengenai gerakan nasional memasyarakatkan da membudidayakan kewirausahaan dikemukakan bahwa kewirausahaan merupkan semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam mengatasi usaha dan suatu kegiatan yang menjurus pada usapay pencarian, penciptaan, penerapan carakerja, teknologi, dan produksi baru dengan meningkatkan efisiensi dalam angka memberi pelayanan yang lebih baik dan untuk memperoleh keuntungan atau laba yang lebih besar.

Sebelumnya yang telah ditetapkan oleh Ahmad Sanusi, seorang ahli kewirausahaan yang telah mengemukakan bahwa kewirausahaan dapat dilihat sebagai intuisi kemasyarakatan yang mengandung nilai-nilai dan direalisasikan dalam perilaku. Nilai tersebut antara lain dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat, dan proses dari hasil bisnis.

Winarto, ahli kewirausahaan yang menyatakan bahwa kewirausahaan adalah suatu proses atau kegiatan yang melakukan suatu hal yang baru dan berbeda dengan tujuan menciptakan kemakmuran bagi individu dan memberi nilai tambah pada masyarakat.


Simak juga: Mengenal Beberapa Metode Prospecting dalam Penjualan

Ciri ciri kewirausahaan menurut Astamu antara lain seperti berikut :
1. Memiliki visi
2. Bersifat kreatif dan inovatif
3. Dapat melihat peluang
4. Berorientasi pada konsumen, pelanggan, laba, dan pertumbuhan
5. Berani dalam mengambil resiko dan berjiwa kompetitif
6. Mempunyai jiwa sosial dengan menjadi dermawan dan berjiwa altruis
7. Cepat dan tanggap serta bergerak cepat

Ciri ciri dan Waktak Wirausaha menurut Geoffrey G. Meredith antara lain, sebagai berikut :
1. Percaya diri, sikap percaya diri dapat berupa rasa yakin, tidak tergantung orang lain, individualistis, dan optimis.
2. Berorientasi pada semua tugadan hasil, yaitu segala kebutuhan akan prestasi, berorientasi laba, tekun,tabah, bertekat kerja keras yang tinggi, enerjik, dan berinisiatif.
3. Pengambil resiko, Dapat mengambil resiko dan menyukai tantangan.
4. Berkepimpinan, seorang wirausaha bersikap layaknya seorang pemimpin, dapat bergaul dengan oranglain.
5. Asli, menanggapi berbagai saran dan kritik, inovatif dan kreatif, fleksibel, memiliki banyak sumber, serta berwawasan luas.
6. Berorientasi pada masa depan, selalu berpandangan jauh ke depan.

Sumber modal berasl dari :
a. Teman atau relasi
b. Keluarga
c. Bank
d. Lembaga keuangan

Fungsi manajemen dalam kegiatan bisnis antara lain :
1. Perencanaan atau planning
2. Perorganisasian atau organizing
3. Pelaksanaan atau tuating
4. Pengawasan atau controling

Langkah langkah dalam memilih jenis bisnis, sebagai berikut :
1. Mengidentifikasikan setiap kemungkinan yang ada dan akan datang
2. Mengumpulkan semua peluangatau kesempatan yang ada dan memadukannya dengan keadaan
3. Mengadakan seleksi terhadap seluruh peluang dengan kreiteria yang jelas
4. Tidak melanjutkan analisis terhadap peluang yang tidak mungkin dilaksanakan
5. Mengkaji lebih dalam setiap alternatif peluang yang memenuhi persyaratan
6. Menetapka peluang yang mungkin akan direalisasikan
7. Memfasilitasi peluang yang dipilih

Audit Pemasaran dan Arti Pentingnya

Mengenal Bentuk Audit Pemasaran


Dalam suatu strategi pemasaran, terdapat hal penting yang perlu dipelajari, yakni soal audit pemasaran. Audit pemasaran adalah suatu tinjauan formal dan sistematis yang dilakukan pada strategi dan rencana pemasaran yang diambil.

Audit pemasaran ini dapat dilakukan dalam dua cara, yakni secaa eksternal dan internal. Audit pemasaran secara eksternal dilakukan oleh auditor independen, sedangkan secara internal yang dilakukan oleh bagian pemasaran.

Yang dimaksud dengan pengauditan adalah proses menguji catatan dan prosedur serta mengidentifikasi permasalahan di lingkungan, dalam organisasi, dan di antara organiisasi dengan pemasoknya.

Audit Pemasaran dan Arti Pentingnya

Tujuan Audit Pemasaran

Tujuan audit pemasaran adalah untuk melihat seberapa baik perusahaan dalam menerapkan konsep pemasarannya dalam menciptakan nilai bagi konsumennya dalam tingkat laba. Audit pemasaran atau marketing audit ini memungkinkan manajemen untuk melihat lebih jauh di luar ramalan penjualan dan peramalan pangsa pasar.

Arti Penting Audit Pemasaran

Audit pemasaran ini adalah suatu proses yang penting dalam sebuah rangkaian strategi pemasaran. Namun, audit pemasaran ini tidak selalu dilakukan oleh setiap perusahaan. Sering kali, kebutuhan akan audit ini tidak muncul apabila strategi marketing yang dijalankan lancar.

Artinya, apabila belum terjadi suatu perubahan yang buruk dalam strategi marketing, maka audit pemasaran ini tidak dilakukan. Perubahan atau masalah ini misalnya jika terjadi penurunan penjualan, penurunan laba, hilangnya pangsa pasar, atau kapasitas produksi yang tidak terpakai sepenuhnya.

Nah, barulah pada kondisi yang tidak beres seperti ini, maka manajemen sering mencoba memperbaiki gejala -gejala yang salah. Misalnya dengan jalan memperkenalkan produk baru atau menarik produk, reorganisasi tenaga penjualan, menurunkan harga, dan pemotongan biaya dan lainnya.

Apabila kondisi yang salah ini terjadi, maka permasalahan harus dengan tepat didefinisikan. Nah, untuk menyelesaikannya inilah, audit pemasaran menjadi suatu cara untuk membantu mendefinisikannya.

Pada intinya, audit adalah suatu pendekatan yang terstruktur untuk mengumpulkan dan menganalisa informasi dan data dalam lingkungan bisnis yang rumit serta merupakan suatu prasyarat penting dalam memecahkan suatu masalah.

Bentuk Bentuk Audit

Audit dapat dilakukan dalam dua bentuk, yakni audit eksternal dan audit internal. Berikut keterangannya :

1. Audit eksternal (external audit)

Audit eksternal berhubungan dengan variable yang tidak dapat dikontrol langsung oleh perusahaan, seperti variable lingkungan, pasar dan persaingan. Audit eksternal ini dimulai dengan suatu pengujian informasi tentang keadaan ekonomi secara umum.

Selanjutnya, pengujian ini dilanjutkan dengan pendangan terhadap kesehatan pertumbuhan pasar yang dilayani oleh perusahaan. Barulah dari proses audit ini didapatkan hasil untuk evaluasi strategi pemasaran yang telah dilakukan dan sebaiknya dilakukan.

2. Audit internal (internal audit)

Audit internal ini berhubungan dengan variable yang dapat dikontrol secara penuh oleh perusahaan. Variable ini disebut dengan variable operational atau operational variables. Tujuan audit internal adalah untuk menilai sumber daya organisasi dalam kaitannya dengan lingkungan dan sumber daya pesaing.

Tahap -tahap dasar dalam proses auditing, meliputi :
1)      Identifikasi, pengukuran, pengumpulan, dan analisis semua fakta dan pendapat yang mempengaruhi permasalahan perusahaan.
2)      Penggunaan penilaian (judgment) untuk hal - hal yang tetap tidak jelas sampai analisis awal selesai dilakukan.


Kapan dan Siapa yang Melakukan Audit Pemasaran?

Pemasaran memang merupakan suatu proses yang begitu rumit. Karenanya, sangat perlu untuk mewujudkan suatu analisis secara menyeluruh. Analisis ini paling tidak dilakukan dalam satu tahun sekali di awal siklus perencanaan.

Karena tujuan audit perusahaan untuk menentukan tujuan dan strategi pemasaran suatu perusahaan, maka akan lebih membantu apabila suatu format dapat dirumuskan untuk mengorganisasikan temuan-temuan yang didapatkan.

Salah satu cara untuk mengorganisasikan temuan ini adalah dalam bentuk analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan bentuk ringkasan dari audit dibawah judul kekuatan dan kelemahan internal dalam hubungannya dengan peluang dan ancaman eksternal.

Analisis SWOT berisi tidak lebih dari empat atau lima halaman komentar, yang berfokus pada faktor -faktor kunci saja. Analisis tersebut memaparkan tentang kekuatan dan kelemahan internal pembeda dalam hubungannya dengan peluang dan ancaman utama pesaing. Analisis ini memuat sejumlah alasan mengapa dapat terjadi kinerja yang baik atau buruk.

Kesimpulan tentang audit pemasaran

Kesimpulannya, audit pemasaran adalah suatu proses dari melakukan suatu audit pemasaran yang rutin dan menyeluruh dalam suatu langkah yang terstruktur agar dapat memberi suatu perusahaan pengetahuan akan bisnis, trend di pasar, dan dimana perusahaan pesaing memberi nilai tambah.

Jadi, dapat dikatakan bahwa audit adalah dasar untuk menetapkan tujuan dan strategi. Dengan demikian, audit pemasaran adalah hal yang penting dan perlu untuk mendapat perhatian dari perusahaan.

Definisi Jasa dan Karakteristik Produk Jasa

Mengenal Sektor Produk Jasa


Dalam dunia bisnis, produk memang jadi hal utama. Produk merupakan komoditas yang diperjualbelikan dan menjadi basis utama dalam kegiatan bisnis. Produk ini pula yang akan dipasarkan untuk para konsumen dan menjadi fokus strategi marketing.

Produk yang ditawarkan ini dapat berupa berbagai jenis. Macam produk meliputi barang dan jasa. Secara sederhana, produk barang dapat dipahami sebagai produk yang memiliki wujud fisik, sedangkan produk jasa tidak mempunyai wujud tertentu karena yang dimanfaatkan hanya segi aktivitas, manfaat dan kepuasannya saja.

Sektor produk jasa memang cukup menarik. Nah, pada pembahasan kali ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang produk jasa ini, termasuk pada klasifikasi produk jasa dan karakteristik produk jasa.

Apa definisi jasa?

Jika membahas mengenai produk jasa, tentu kita perlu mengetahui dan memahami apa definisi jasa itu sendiri. Definisi jasa menurut William J. Staton, yang dijabarkan oleh Buchari Alma dalam bukunya berjudul “Manajemann Pemasaran dan Pemasaran Jasa”, jasa adalah sesuatu yang dapat diidentifikasi secara terpisah, tidak memiliki wujud, dan ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan.

Walaupun produk jasa itu sendiri tidak berwujud, akan tetapi jasa dapat dihasilkan dari penggunaan benda-benda yang tidak berwujud maupun benda yang berwujud.

Faktor penyebab perkembangan produk jasa

Tak bisa dipungkiri kalau sektor produk jasa terus mengalami perkembangan. Dari tahun ke tahun, sektor produk jasa semakin banyak berkembang dan semakin banyak konsumen yang meminatinya.

Lantas, apa ya yang membuat produk jasa ini berkembang semakin pesat? Faktor penyebab perkembangan produk jasa ini dikarenakan beberapa hal berikut :
·         Produk-produk yang dibutuhkan oleh konsumen semakin beragam dan kompleks.
·         Produk yang dihasilkan semakin kompleks
·         Adanya peningkatan kompleksitas kehidupan
·         Adanya peningkatan pengaruh sektor jasa
·         Waktu santai yang semakin banyak
·         Persentase wanita yang masuk dalam angkatan kerja semakin besar
·         Tingkat harapan hidup semakin meningkat
·         Meningkatnya perhatian terhadap ekologi dan kelangkaan sumber daya
·         Perubahan teknologi yang berlangsung semakin cepat

Definisi Jasa dan Karakteristik Produk Jasa

Karakteristik Jasa

Karakteristik produk jasa memang berbeda dengan karakteristik produk barang. Untuk produk jasa, terdapat empat karakteristik tersendiri yang perlu dipenuhi. Empat karakteristik jasa yang utama adalah : intangibility, inseparability, variability, perishability.

a. Intangibility (tidak berwujud)

Jasa mempunyai sifat intangible atau tidak berwujud. Artinya, produk dari sektor jasa ini tidak dapat dilihat, dirasa, dicium, didengar, atau diraba sebelum produk jasa tersebut dibeli dan dikonsumsi.

Kesimpulannya, konsep intangible pada produk jasa memiliki pengertian, yakni :
1.      Sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa
2.      Sesuatu yang tidak dapat dengan mudah untuk didefinisikan, diformulasikan, atau dipahami secara rohaniah.

Dengan karakteristik jasa ini, maka orang tidak dapat menilai kualitas jasa sebelum ia merasakan atau mengkonsumsinya sendiri. jadi, apabila pelanggan membeli suatu jasa, ia hanya menggunakan, memanfaatkan, atau menyewa jasa tersebut saja.

Jadi, pelanggan yang bersangkutan tidak lantas mempunyai jasa yang dibelinya. Oleh karenanya, untuk mengurangi ketidakpastian, para pelanggan harus memperhatikan tanda-tanda atau bukti kualitas dari jasa tersebut.

b. Inseparability (tidak terpisahkan)

Suatu produk barang biasanya diproduksi terlebih dahulu baru kemudian dijual. Setelah produk itu dibeli oleh konsumen, barulah bisa dikonsumsi. Kondisi ini berbeda dengan produk pada sektor jasa.

Produk jasa memiliki karakteristik yang inseparability atau tidak terpisahkan. Artinya, produk jasa ini justru dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan.

Jadi, interaksi yang terjadi antara penyedia jasa dan pelanggan merupakan ciri khusus dalam pemasaran jasa.

c. Variability (bervariasi)

Jasa juga memiliki karakteristik yang bersifat sangat variable. Artinya, ada banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis. Variasi ini biasanya tergantung pada siapa, kapan dan di mana jasa tersebut dihasilkan.

Jadi, para pembeli jasa sangat peduli dengan variabilitas yang tinggi ini. Karenanya, seringkali mereka meminta pendapat orang lain sebelum memutuskan untuk memilih menggunakan suatu produk jasa tertentu.

Dalam hal ini penyedia jasa dapat melakukan tiga tahap untuk mengendalian kualitasnya. Hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikan kualitas produk jasa, yakni :
1)      Melakukan intervensi dalam seleksi dan pelatihan personil yang baik
2)      Melakukan standarisasi proses pelaksanaan jasa atau service performance process.
3)      Memantau kepuasan pelanggan melalui sistem saran dan keluhan, survey pelanggan, dan comparison shopping, sehingga pelayanan yang kurang baik dapat dideteksi dan dikoreksi untuk kemudian memberikan perbaikan terhadap produk jasanya.

d. Perishability (habis pakai)

Jasa juga mempunyai karakteristik perishability atau habis pakai. Artinya, jasa ini merupakan komoditas yang tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Apalagi, bila produk ini sudah berlalu, maka tidak bisa lagi dimanfaatkan.

Misalnya saja, kamar hotel yang tidak dihuni, sebuah kursi kereta api yang kosong, atau jam tertentu tanpa pasien di tempat praktek seorang dokter, maka produk itu akan berlalu atau hilang begitu saja karena memang tidak bisa disimpan untuk dipergunakan di waktu lain lagi.

Walau demikian, hal ini tidak menjadi masalah bila permintaannya tetap karena mudah untuk menyiapkan pelayanan untuk permintaan tersebut.

Pengertian Komunikasi Lisan dan Tertulis

Memahami Apa Arti dari Komunikasi Lisan dan Tertulis


Kata komunikasi tentu sudah sangat akrab bagi siapa pun, termasuk kamu bukan? Ya, komunikasi memang sangat sering digunakan dalam interaksi manusia sehari -hari. Meski sudah sering dilakukan, mungkin masih ada sebagian dari kamu yang belum paham pengertian komunikasi serta bentuknya.

Pengertian komunikasi secara etimologi
Secara etimologi, komunikasi berasal dari bahasa Latin yakni ‘cum’, atau kata depan yang berarti ‘dengan’, atau ‘bersama dengan’, dan kata ‘umus’, atau sebuah kata bilangan yang berarti ‘satu’.

Dua kata tersebut, membentuk kata benda yakni ‘communio’. Communio ini dalam bahasa Inggris disebut sebagai commnion, yang artinya adalah kebersamaan, persatuan, persekutuan gabungan, pergaulan, atau hubungan.

Karena untuk ber-communio diperlukan usaha dan kerja, maka kata itu dibentuk menjadi kata kerja communicare sehingga artinya menjadi “membagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar, bercakap-cakap, berteman, bertukar pikiran, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, berhubungan, berpartisipasi atau memberitahukan.

Pengertian Komunikasi Lisan dan Tertulis

Pengertian komunikasi secara harafiah
Pengertian komunikasi secara harfiah, menurut Agus M. Hardjana dalam bukunya Komunikasi Interpersonal & Komunikasi Intrapersonal, 2003, komunikasi diartikan sebagai pemberitahuan, pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.

Nah, komunikasi ini juga dapat dibedakan lagi ke dalam beberapa bentuk. Pembagian komunikasi dari segi penyampaiannya, ada komunikasi lisan dan tertulis. Beberapa sumber kini menambahkan komunikasi elektronik.

Tapi, kali ini kita akan bahas lebih lanjut mengenai pengertian komunikasi lisan dan tertulis. Berikut uraiannya.

1. Komunikasi lisan
Pengertian komunikasi lisan yakni bentuk komunikasi dengan mengucapkan kata -kata secara lisan dan langsung kepada lawan bicaranya. Biasanya, komunikasi lisan dapat dilakukan pada kondisi para personal atau individu yang berkomunikasi berhadapan langsung.

Contohnya, saat berkomunikasi dengan tatap muka langsung. Selain itu, komunikasi lisan ini juga dapat dilakukan melaui alat berupa komputer yang dilengkapi dengan fasilitas konferensi jarak jauh (computer teleconference). Dapat juga tatap muka melaui televisi sirkuit tertutup (closed cirkit televisi/CCTV).
2. Komunikasi tertulis
Komunikasi tertulis yakni komunikasi yang dilakukan melalui tulisan seperti yang dilakukan dalam kegiatan surat menyurat melalui pos, telegram, telexaf, fax, e-mail dan sabagainya.

Di dalam dunia bisnis, komunikasi tertulis ini terbilang sering dilakukan.  Contoh bentuk komunikasi tertulis misalnya ketika melakukan surat -menyurat bisnis. Berikut contohnya :
a.       Membuat dan mengirim surat teguran kepada nasabah yang menunggak pembayarannya.
b.      Membuat dan mengirim surat aduan (claim) kepada pihak lain.
c.       Membuat dan mengirim surat penolakan kerja.
d.      Membuat dan mengirim surat penawaran harga barang kepada pihak lain.
e.       Membuat dan mengirim surat konfirmasi barang kepada pelanggan.
f.       Membuat dan mengirim surat pemesanan barang (order) kepada pihak lain.
g.      Membuat dan mengirim surat permintaan barang kepada pihak lain.
h.      Membuat dan mengirim surat kontak kerja kepada pihak lain.
i.        Memberi informasi kepada pelanggan yang meminta informasi produk-produk baru.

Komunikasi lisan / tulisan sesuai dengan prosedur perusahaan
Dalam hubungan bisnis, komunikasi adalah hal yang amat penting. Seringkali, kita akan butuh untuk mengirimkan pesan -pesan bisnis. Untuk bertukar pesan bisnis ini, banyak orang yang lebih suka untuk berbicara (speaking) dari pada menulis (writting) pesannya.

Komunikasi lisan ini lebih disukai karena relatif lebih mudah, praktis (efisien), dan cepat dalam penyampaian pesan-pesan bisnis. Karena alasan ini, para pelaku bisnis ini biasanya menyampaikan pesan bisnisnya melalui lisan, terutama ketika membutuhkan hal -hal penting.

Penyampaian pesan -pesan bisnis dengan tulisan memang relatif jarang dilakukan. Meski demikian, komunikasi tertulis ini bukan berarti tidak penting dan telah ditinggalkan. Tidak semua hal atau pesan bisnis dapat disampaikan dengan komunikasi lisan.

Adakalanya, pesan bisnis ini perlu atau harus disampaikan dalam bentuk komunikasi tertulis. Hal ini terutama pada pesan yang sifatnya sangat penting dan kompleks. Pesan seperti ini lebih tepat bila disampaikan dengan menggunakan tulisan.

Bentuk-bentuk komunikasi tertulis yang sering dilakukan dalam dunia bisnis, diantaranya ada surat-surat bisnis, memo, dan laporan.

Selain itu, contoh komunikasi tertulis yang lain juga dapat dilihat dari bentuk komunikasi dari perusahaan kepada customer atau pelangannya yang berupa selebaran.